Gigi Tiruan Penuh/Lengkap (Full denture/ Complete denture)

gigi palsuFull denture atau complete denture atau gigi tiruan lengkap menurut Soelarko dan Herman (1980), adalah suatu gigi tiruan yang menggantikan seluruh gigi pada lengkung rahang sehingga kemudian dikenal dengan istilah:
1. Upper full denture ialah gigi tiruan penuh rahang atas.
2. Lower full denture ialah gigi tiruan penuh rahang bawah.
Indikasi pembuatan gigi tiruan lengkap adalah :
1.      Individu yang seluruh giginya telah tanggal atau dicabut.
2.   Individu yang masih punya beberapa gigi yang harus dicabut karena kesehatan/kerusakan gigi yang masih ada tidak mungkin diperbaiki.
3.      Bila dibuatkan GTS gigi yang masih ada akan menggangu keberhasilannya.
4.      Kondisi umum dan kondisi mulut sehat.
5.      Ada persetujuan mengenai waktu, biaya dan prognosa yang akan diperoleh.
Pasien tidak bergigi mempunyai kecenderungan untuk memajukan mandibula secara tidak sengaja dan berusaha untuk berkontak dengan rahang atas. Hal ini dikarenakan adanya perubahan / pengurangan dimensi vertikal dan tidak adanya sentrik posisi. Sehingga jika pasien dibuatkan gigi tiruan lengkap maka dimensi vertikal dan  physiological rest position akan kembali seperti pada saat gigi asli ada.
Retensi dapat didefinisikan sebagai kekuatan menahan dari suatu gigi tiruan terhadap daya lepas pada saat gigi tiruan tersebut dalam keadaan diam. Pemeriksaan retensi dilakukan dengan memasangkan gigi tiruan kuat-kuat dalam mulut dan mencoba melepaskannya dengan gaya tegak lurus terhadap bidang oklusal. Bila gigi tiruan dapat bertahan terhadap gaya-gaya tersebut, berarti gigi tiruan mempunyai retensi yang cukup. Gaya-gaya fisik yang berhubungan dengan retensi GTL adalah :
1.      Tekanan permukaan : meliputi adhesi antara saliva dan gigi tiruan serta mukosa.
2.   Gaya-gaya dalam cairan : seperti tegangan permukaan saliva, gaya-gaya kohesi dalam cairan saliva, dan viskositas saliva, semua mempengaruhi retensi gigi tiruan dan berhubungan erat dengan ketepatan kontak basis terhadap jaringan
3.  Tekanan atmosfer : tekanan atmosfer menahan gaya-gaya yang akan melepaskan gigi tiruan asalkan ada peripherial seal yang utuh.
Menurut Basker dkk. (1996), kekuatan retentif memberikan kekuatan terhadap pengungkitan gigi tiruan dari mukosa pendukung dan bekerja melalui 3 permukaan gigi tiruan:
1.    Permukaan oklusal (occlusal surface): bagian permukaan gigi tiruan yang berkontak atau hampir  berkontak dengan permukaan yang sesuai pada gigi tiruan lawan atau gigi asli.
2.  Permukaan poles (polishing surface): bagian permukaan gigi tiruan yang terbentang dari tepi gigi tiruan ke permukaan oklusal, termasuk permukaan palatal. Bagian basis gigi tiruan inilah yang biasanya dipoles, termasuk permukaan bukal dan lingual gigi-geligi, dan permukaan ini berkontak dengan bibir, pipi, dan lidah.
3.  Permukaan cetakan (finishing surface): bagian permukaaan gigi tiruan yang konturnya ditentukan oleh cetakan. Bagian ini mencakup tepi gigi tiruan yang terbentang ke permukaan poles.
Tekanan retentif yang berperan terhadap semua permukaan adalah tekanan otot dan tekanan fisik.
Faktor retensi dan stabilisasi adalah faktor yang penting dalam keberhasilan GTL. Faktor-faktor yang mempengaruhi retensi GTL, terutama GTL rahang atas:
  1. Faktor fisis:
a.          Peripherial seal, efektifitas peripherial seal sangat mempengaruhi efek retentive dari tekanan atmosfer. Posisi terbaik peripherial seal adalah disekeliling tepi gigi tiruan yaitu pada permukaan bukal gigi tiruan atas, pada permukaan bukal dan lingual gigi tiruan bawah.
b.        Postdam, diletakkan tepat disebelah anterior garis getar dari platum molle dekat fovea palatine.
  1. Adaptasi yang baik antara gigi tiruan dengan mukosa mulut. Ketepatan kontak antara basis gigi tiruan dengan mukosa mulut, tergantung dari efektivitas gaya-gaya fisik dari adhesi dan kohesi, yang bersama-sama dikenal sebagai adhesi selektif.
  2. perluasan basis gigi tiruan yang menempel pada mukosa (fitting surface). Retensi gigi tiruan berbanding langsung dengan luas daerah yang ditutupi oleh basis gigi tiruan.
  3. Residual Ridge, karena disini tidak ada lagi gigi yang dapat dipakai sebagai pegangan terutama pada rahng atas.
  4. Faktor kompresibilitas jaringan lunak dan tulang dibawahnya untuk menghindari rasa sakit dan terlepasnya gigi tiruan saat berfungsi.
Stabilisasi pada gigi tiruan lengkap merupakan kekuatan menahan dari suatu gigi tiruan terhadap kekuatan daya lepas pada saat gigi tiruan berfungsi (adanya tekanan fungsional).
Untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan, maka diperlukan suatu alat yang disebut artikulator yang dapat mewakili rahang pasien. Adapun jenis artikulator yang digunakan disini adalah articulator jenis simple anatomical type, yang disebut Free Plane Articulator yang terdiri dari bagian upper member, lower member, incisal guide pin dan mounting table.

Tahap Klinis

            Tahap awal setelah pasien dianamnesa dan diindikasikan adalah pencetakan (impression), yaitu suatu bentuk negatif dari jaringan mulut yang akan dipakai sebagai basal seal prothesa (Swenson, 1964).
            Soelarko dan Herman (1980), membagi dua macam cetakan, yaitu:
1.      Cetakan anatomis (dalam keadaan tidak berfungsi), yaitu pencetakan  tidak menghiraukan tertekan atau tidaknya mukosa. Cetakan dilakukan dengan sendok cetak biasa (stock tray), bahan yang dipakai adalah compound, alginat.
2.      Cetakan fisiologis (dalam keadaan berfungsi), yaitu dalam pencetakan ini memperhatikan jaringan bergerak dan tidak bergerak juga memperhatikan tertekannya mukosa. Digunakan sendok cetak individual yang  dibuat dari bahan shellac atau self curing acrilic resin. Hasil cetakannya digunakan sebagai work model.
Kedua jenis cetakan tersebut dilakukan untuk mendapatkan hasil cetakan seakurat mungkin, dikenal sebagai double impression.
Cara membuat sendok cetak individual (Itjiningsih, 1993):
            Shellac dipanaskan pada model studi sambil ditekan. Lakukan pemotongan sesuai dengan batas jaringan bergerak dan tidak bergerak. Bila dikehendaki dapat 1-2 mm lebih rendah untuk memberi tempat pada bahan cetak asal jangan mudah lepas dari rahang pasien. Buatlah pegangan sendok individual dan buat pula lubang dengan bur bulat no. 3 pada daerah palatum, berjarak 4-5 mm. Kegunaan lubang ini adalah untuk mengalirkan bahan cetak yang berlebih karena bila tertahan akan menyebabkan tekanan yang berlebih dari geligi tiruan pada jaringan pendukungnya.
Tahap Laboratoris
            Pembuatan gigi tiruan di dalam mulut perlu memperhatikan keadaan jaringan di sekitarnya, yaitu jaringan yang bergerak dan tidak bergerak. Jaringan yang tidak bergerak dijadikan sebagai landasan gigi tiruan penuh, dengan membuat batas antara jaringan mulut bergerak dan jaringan mulut tidak bergerak yang serapi-rapinya dan seakurat mungkin akan mempengaruhi hasil dan suksesnya pembuatan gigi tiruan lengkap.
Selain itu pembuatan GTL perlu memperhatikan pendukung utama, yaitu residual ridge karena tidak adanya gigi asli yang dapat digunakan sebagai pegangan. Agar tercapai hasil yang baik juga diperlukan artikulator sebagai alat yang berguna untuk mendapatkan bentuk tiruan rahang manusia yang menirukan gerakan rahang pada saat artikulasi.
            Pembuatan base plate diklasifikasikan dalam 2 golongan (Jehl, 1959), yaitu:
1.      Temporer base, bila digunakan untuk perlekatan oklusal rim guna merestorasi facial dari rahang atas dan rahang bawah.
2.      Permanent base, berguna untuk mencatat posisi relasi rahang dan menempatkan gigi-gigi.
Base plate adalah suatu bentuk sementara yang mewakili dasar gigi tiruan dan digunakan untuk membuat Maxillo-Mandibular Record, menempatkan gigi-gigi dan untuk insersi ke dalam mulut. Sedangkan bite rim dibuat di atas base plate yang telah dihaluskan dengan menggunakan modeling wax (Swenson, 1964).
Base plate yang telah bergabung dengan bite rim disebut occlusal bite rim atau tanggul gigitan. Kegunaan bite rim adalah:
    1. Untuk melekatan gigi sebelum diganti dengan akrilik.
    2. Untuk mencatat maxilo-mandibula relationship pada pasien
            Artikulator mounting artinya adalah memasang occlusal bite rim rahang atas dan bawah dari mulut pasien ke artikulator bersama modelnya setelah ditentukan dimensi vertikal maupun sentrik oklusinya (Soelarko dan Harman, 1980). Vertikal dimensi disebut juga tinggi gigitan, dapat dicapai dengan mengukur jarak pupil dengan sudut mulut akan sama dengan jarak hidung dengan dagu pasien (PM=HD) dalam keadaan oklusi sentris (Soelarko dan Harman, 1980). Oklusi sentrik adalah hubungan kontak maksimal dari gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan relasi sentris. Relasi sentris adalah hubungan maksila dan mandibula dimana kedua condylus berada dalam keadaan paling posterior dalam fossa glenoid (Swenson, 1964).

            Pemasangan gigi geligi yang penting untuk diperhatikan adalah personality expression, umur, jenis kelamin yang nantinya akan berpengaruh dalam pemilihan ukuran, bentuk, warna terutama untuk gigi anterior karena harus mengingat estetis, walaupun tidak kalah pentingnya untuk pemasangan gigi posterior yang tidak harus sama ukurannya dengan gigi asli, tetapi lebih kecil, untuk mengurangi permukaan pengunyahan supaya tekanan pada waktu penguyahan tidak memberatkan jaringan pendukung. Perlu diperhatikan pula overbite, overjet, curve von spee, curve monson, agar diperoleh suatu keadaan yang diharapkan pada pembuatan GTL.


Kunjungan I
1. Anamnesa dan pemeriksaan obyektif
2. Membuat model study / preleminary impresssion.
a. Sendok cetak     : perforated stock tray.
b. Bahan cetak      : elastic impression (alginat) / irreversible hydrocoloid
c. Metode mencetak : mukostatik.
            Caramencetak : adonan alginat dibuat dengan konsistensi tertentu, dimasukkan kedalam sendok cetak. Sendok cetak dimasukkan ke dalam mulut dan ditekan pada proc. alveolaris RA dan RB dengan otot-otot bibir dan pipi ditarik. Kemudian dilakukan muscle trimming agar bahan cetak mencapai lipatan mukobukal. Posisi dipertahankan selama setting. Kemudian sendok diambil dan hasil cetakan diamati  untuk melihat kekurangan-kekurangannya.
            Kemudian dari model studi yang sudah jadi tersebut  dibuat sendok cetak individual  dengan batas-batas yang telah ditentukan  dengan bahan shellac. Cara membuatnya adalah: Shellac dilunakkan  diatas api spiritus, kemudian diletakkan diatas model studi. Shellac  ditekan pada model studi, kemudian dipotong sesuai dengan batas yang telah digambar pada model. Pemotongan bisa dilakukan dengan gunting bila masih lunak., atau dengan bur bila sudah mengeras (Utari,  1994). Kemudian dibuat pegangan sendok cetak individual dan dibuat pula lubang-lubang dengan jarak kurang lebih 5 mm. Kegunaan lubang ini adalah untuk mengalirkan kelebihan bahan cetak,  karena bila tertahan akan dapat menyebabkan  tekanan yang berlebihan pada geligi tiruan pada jaringan pendukungnya, sehingga lubang dibuat pada daerah yang tidak memerlukan tekanan. Pegangan sendok cetak dibuat tegak lurus bidang horizontal.
Kunjungan II
Tahap Klinis
Membuat model kerja / Final Impression
Mencoba individual tray (sendok cetak individual)
  stabilisasi      : menghindari muscular attachment
  relief area     : tercakup semua, baik rahang atas maupun bawah.
Bahan sendok             : shellac base plate
Bahan cetak                : alginat
Metoda mencetak       : mukodinamik
            Sebelum mencetak, dilakukan pengepasan sendok cetak individual. Pastikan sendok cetak individual tetap stabil ketika otot-otot rongga mulut digerakkan, baik pada rahang atas maupun rahang bawah. Jika sendok cetak ikut bergerak bersamaan dengan gerak otot, maka dilakukan pemotongan sampai sendok cetak tersebut lebih stabil. Tepi sendok cetak individual kira-kira 2 mm dari forniks. Sayap sendok cetak yang berlebihan harus dikurangi karena apabila tidak dikurangi, maka ketika mencetak, jaringan sulkus akan menegang. Akibatnya, sayap gigi tiruan akan terlalu panjang sehingga melukai jaringan lunak serta menjadi tidak stabil. Apabila sendok cetak kurang mencukupi batas tersebut, maka dilakukan penambahan dengan malam merah atau kompon batang hijau. Sendok cetak yang pendek menyebabkan dua kemungkinan: bahan cetak tidak dapat mencapai seluruh dasar forniks sehingga gigi tiruan yang dihasilkan menjadi terlalu pendek, atau bahan cetak dapat mencapai seluruh dasar fornik namun tidak didukung dengan baik oleh sendok cetak sehingga ketika diisi gips, berat adonan gips akan merubah bentuk bagian bahan cetak yang tidak ditopang (Basker dkk, 1996).
Caranya sebagai berikut:
Rahang atas:
   Bahan cetak dicampur dengan gerakan spatulasi sampai diperoleh konsistensi lunak, kemudian dimasukkan dalam sendok cetak. Masukkan sendok cetak kedalam mulut kemudian ditekan ke prosessus alveolaris. Dilakukan trimming agar bahan cetak mencapai lipatan mukobukal, caranya pada saat sendok cetak didalam mulut, dilakukan gerakkan rahang bawah kekiri dan kekanan, kemudian pipi dan bibir ditarik keatas kemudian kebawah. Untuk mendapatkan postdam area, pasien disuruh mengatakan ‘ah’, sehingga tampak batas antara palatum durum dan palatum molle. Posisi dipertahankan sampai setting, kemudian sendok cetak dilepas. Gambarkan garis “Ah” pada batas tersebut dengan pensil tinta kemudian dicetakkan/dimasukkan kembali kedalam rahang atas, sehingga garis tinta akan luntur pada cetakan. Dapat untuk  menandai “ah-line” (vibrating line).
Rahang bawah:
   Caranya sama seperti pada rahang atas, disini pasien diminta menjulurkan lidah. Bibir dan pipi digerakkan agar bahan cetak dapat mencapai bukal flange. Posisi dipertahankan sampai setting. Kemudian sendok cetak dilepaskan dari mulut.
 Setelah diperoleh cetakan yang akurat. Kemudian diisi dengan gips biasa dan gips stone dengan perbandingan 1:1. Pekerjaan kemudian dilanjutkan dengan menentukan batas tepinya, memperhatikan daerah mukosa yang bergerak dan tidak bergerak, kemudian ditentukan relief area maupun non relief area. Ditentukan pula posterior palatal seal dan membuat seal. Setelah model malam selesai, base plate diganti dengan resin akrilik.
Tahap Labotaroris
   Setelah didapat work model dengan jalan melepas stone gips yang sudah mengeras dari cetakan, lalu diteruskan dengan pembuatan base plate permanen dan bite rim. Base plate harus benar-benar menempel pada work model. Untuk lengkung bite rim RB disesuaikan dengan alveolar ridge yang ada, sedangkan bite rim untuk RA dibuat setinggi kurang lebih 2 mm dibawah bibir atas saat rest posisi. Tinggi bite rim RB dibuat sejajar dengan tinggi retromolar pad.
Yang perlu diperhatikan dalam membuat bite rim :
a.                Bite rim anterior atas harus sejajar dengan garis pupil (garis yang menghubungkan kedua pupil dan jalannya sejajar dengan garis incisal).
Bite rim posterior sejajar dengan garis Chamfer, yaitu garis yang berjalan dari ala nasi sampai tragus
b.                Bite rim atas harus kelihatan kira-kira 2 mm dibawah garis bibir pada saat rest position.
c.                Median line pasien diambil sebagai terusan dari tengah lekuk bibir atas (philtrum) untuk menentukan garis tengah yang memisahkan incisivus kanan dan kiri.
d.               Garis caninus, tepat pada sudut mulut dalam keadaan rest position
e.                Garis ketawa, yaitu pada saat tertawa gusi tidak terlihat.
Kunjungan III
Tahap Klinis
  1. Insersi base plate, retensi dan stabilisasi diperhatikan. Retensi adalah daya tahan gigi tiruan terhadap upaya pelepasan, sedangkan stabilisasi adalah daya tahan gigi tiruan untuk tetap di tempat ketika funsi pengunyahan berlangsung. Retensi dapat di amati dengan memberikan tekanan pada salah satu sisi gigi tiruan (jjika gigi tiruan terungkit, maka gigi tiruan tersebut tidak retentif) atau dengan memberikan usaha pelepasan (gigi tiruan yang retentif adalah gigi tiruan yang sulit dilepas). Stabilisasi dapat diamati dengan menggerakkan otot-otot pipi, lidah dan mengucapkan ‘ah’. Gigi tiruan yang stabil merupakan gigi tiruan yang tidak berubah tempat ketika difungsikan.
Retensi gigi tiruan ditentukan oleh letak seal dan adhesi/kohesi saliva. Kesesuaian letak seal dilakukan dengan menggerakkan otot pipi. Jika alat terjatuh ketika otot digerakkan, berarti terdapat over extension plat. Solusi keadaan ini adalah dengan mengurangi plat. Sebaliknya, jika  seal pada plat under extension, maka kohesi dan adhesi saliva berkurang, dan alat menjadi tidak retentif. Solusi keadaan ini adalah dengan membuat plat yang baru.
  1. Penentuan profil pasien. Profil pasien disesuaikan dengan ras pasien tersebut. Dalam kasus ini, pasien termasuk ras mongoloid yang memiliki ciri khas profil cembung. Kecembungan profil dibuat dengan tonus otot labial sebagai parameternya. Profil yang ideal, terbentuk jika otot bibir dalam keadaan isotonus. Apabila bibir tampak hipertonus, maka bagian anterior bite rim terlalu cembung sehingga harus dikurangi. Sebaliknya, jika bibir tampak hipotonus, maka bite rim kurang cembung sehingga perlu ditambah dengan malam merah.
  2. Pencatatan Maxillo-mandibular relationship (MMR), caranya:
Mula-mula pasien dipersilakan duduk pada dental chair, dataran oklusal diusahakan sejajar dengan lantai. Tentukan garis chamfer dari titik di bawah ini :
§  4 mm dari meatus acusticus externus
§  telinga kanan dan kiri
§  spina nasalis anterior
Kemudian ketiga titik tersebut ditandai dengan benang dan diisolasi. Selanjutnya record blok dipasang dengan posisi bite rim RA dan RB harus tertutup secara sempurna (tidak boleh ada celah dan merupakan suatu garis lurus).
Kemudian dicari dimensi vertical (inter occlusal distance), didapatkan  dengan cara mengukur jarak pupil dengan sudut mulut sama dengan jarak hidung sampai dagu (PM = HD). Pada keadaan rest posisi PM = HD.
Pengecekkan dimensi vertikal dapat dilakukan dengan mengucapkan huruf M. Huruf M terdengar jelas jika dimensi vertikal cukup. Free way space dicek dengan pengucapan huruf S (huruf S terdengar mendesis). Jika free way space kurang, maka huruf S sulit terucap, demikian halnya jika free way space berlebihan (terasa semburan saliva ketika pengucapan huruf S).
Bite rim rahang atas dibuat sejajar dengan garis chamfer (garis yang berjalan dari ala nasi sampai titik tertinggi dari porus acusticus externus) untuk bagian posterior dan sejajar garis pupil untuk bagian anterior. Tinggi bite rim rahang atas 1,5-2 mm dibawah garis bibir atas/lower lip line (pada waktu rest posisi). Alat yang digunakan adalah occlusal guide plane.
3. Centric relation record
Yaitu suatu relasi mandibula terhadap maksila pada suatu relasi vertikal yang ditetapkan pada posisi mandibula paling posterior. HD = PM – 2 mm. Pengurangan 2 mm diperoleh dengan  cara mengurangi bite rim rahang bawah dengan maksud sebagai free way space. Cara menentukan relasi sentrik yaitu dengan mengintruksikan pasien untuk menengadahkan kepala pasien sedemikian rupa sehingga prosessus Condyloideus akan tertarik pada fossa bagian belakang karena tarikan dari otot dan mengintruksikan untuk menelan berulang-ulang. Untuk mendapatkan sentrik relasi pasien disuruh  melakukan gerakan mandibula berulang-ulang  sampai pasien biasa dengan oklusi tersebut.
Setelah mendapatkan posisi sentrik, bite rim diberi tanda tempat median line dan garis ketawa.
Median line, garis ketawa, high lip line, low lip line ditentukan kemudian dicek dengan cara pasien dinstruksikan untuk membuka dan menutup mulut kemudian dilihat apakah garis tersebut sudah tepat dan tetap kedudukannya dalam keadaan oklusi sentrik.
     Rahang atas dan rahang bawah difiksasi dengan double V-groove shape, caranya: dibuat V-groove  pada rahang atas kira-kira P1 dan M1; pada rahang bawah daerah V-groove dikurangi kira-kira 2 mm. Bite rim rahang bawah diberi gulungan malam kecil yang telah dilunakkan dibawah V groove RA. V-groove  pada rahang atas diolesi vaselin. Rahang atas dan bawah dikatupkan, mulut dilihat apakah V-groove dan kontranya sudah tepat, kemudian lakukan membuka dan menutup berulang-ulang.
4. Pemasangan pada articulator
Jenis articulator yang digunakan adalah anatomical type yang disebut free plane articulator.
Bagian-bagian articulator ini adalah: upper member, lower member, incisal guide pin dan mounting table.
Cara kerja :
1.  Tentukan besar derajat tonjol caninus superior dan premolar superior pertama.
2. Bite rim RA beserta modelnya diletakkan pada mounting table dengan pedoman : garis tengah bite rim dan model RA berhimpit dengan garis tengah mounting table, tepi luar anterior bite rim RA menyinggung garis incisal edge mounting table, jarum horizontal incisal guide pin ujungnya menyentuh tepi luar anterior dari bite rim model RA dan tepat pada garis tengah bite rim.
3.   Fiksasi dengan wax pada mounting table.
4.   Buat adonan gips.
5.  Upper member digerakkan ke atas dan adonan gips dituang perlahan pada bagian atas model kerja RA lalu upper member digerakkan ke bawah sampai menekan gips yang ada pada model kerja RA.
6. Upper member dan lower member diikat dengan karet, rapikan gips yang memfiksir upper member dengan model RA kemudian tunggu sampai keras.
7.   Mounting table dilepas dari articulator kemudian articulator dibalik.
8.   Bite rim RB diletakkan kembali pada bite rim RA sesuai dengan oklusinya.
9.  Buat adonan gips, lower member diangkat ke atas dan adonan gips dituang pada model kerja RB kemudian lower member digerakkan ke bawah sampai menekan adonan gips, setelah itu articulator dibalik dan gips dirapikan.
Kunjungan IV
Dalam kunjungan ini sudah dilakukan pemasangan gigi-gigi anterior. Urutan pemasangan gigi adalah gigi anterior rahang atas, gigi anterior rahang bawah. Setelah itu tryin untuk gigi depan atas dan gigi depan bawah.
Pemasangan gigi anterior:
11  21  : – axisnya bersudut 5° terhadap mid. line
              – incisalnya menyentuh bite rim RB
              – bagian 1/3 permukaan labial agak depresi
12  22  : – axisnya bersudut 10°  terhadap mid. line
              – incisalnya berjarak 1-2 mm dari bite rim RB
              – permukaan labial agak ke palatal dan mengikuti lengkung bite rim
13  23  : – axisnya tegak lurus/ hampir sejajar dengan median line
  – incisalnya menyentuh bite RB
              – bagian 1/3 labioservikal lebih prominent.
31  41  : – bagian servikal permukaan labial sedikit depresi
  – axisnya tegak lurus dengan bidang insisal, sedikit ke labial
              – perhatikan overjet dan overbite
32  42  : – axisnya sedikit miring ke mesial dengan permukaan labial tegak lurus
    bidang insisal
              – letaknya diantara 12-11  dan  21-22
33  43  : – axisnya sedikit ke mesial
              – bagian cervical permukaan labial lebih prominent
              – letak tonjolnya di antara    13-12 dan 22-23
Setelah pemasangan gigi anterior dilakukan try in untuk memeriksa:
1.      Overbite dan overjet
2.      Garis caninus (pada saat rest posisi terletak pada sudut mulut)
3.      Garis ketawa (batas servikal gigi atas, gusi tidak terlihat saat ketawa)
1.      Fungsi fonetik (pasien disuruh mengucapkan hurus s, f, t, r dan m)
Kunjungan V
Pada kunjungan ini sudah dilakukan pemasangan gigi-gigi posterior. Urutan pemasangan adalah gigi posterior RA kemudian RB. Setelah itu try in pada pasien.
14  24: – axis tegak lurus bite rim RB dan bidang oklusal
– tonjol bukal dan lingual menyentuh bite rim RB, tonjol palatinal  
   menggantung 1 mm
15  25: – axis tegak lurus bite rim RB
            – kedua tonjol menyentuh bite rim RB
16  26: – sumbu gigi condong ke distal
            – tonjol mesiopalatinal menyentuh bite rim, tonjol lainnya  menggantung
17  27: – axis lebih miring daripada  6  6
            – semua tonjol menggantung
Untuk pemasangan gigi-gigi postrior rahang atas ini harus diperhatikan:
1.      dataran orientasi jika dilihat dari sagital harus membentuk kurva Manson
2.      dataran orientasi jika dilihat dari arah lateral harus membentuk kurva Von Spee
Gigi posterior RB yang harus dipasang pertama adalah gigi   36 dan 46
36  46: – tonjol mesiopalatinal  16  26 tepat pada fossa central  36  46
            – relasi  16  26  terhadap   36  46   neutrooklusi (Klas I Angle)
34  44:- axisnya tegak lurus bite rim
           – letaknya di antara 13-14 dan 23-24  dengan tonjol bukal terletak di fossa sentral antara
              P1 dan Caninus RA
35  45:- axisnya tegak lurus bite rim
           – letaknya di antara 14-15 dan 24-25 dengan tonjol bukal terletak di fossa sentral antara
              P1 dan P2 RA
37  47: – axisnya tegak lurus bite rim
            – tonjol mesiobukal   37  47 berada di antara tonjol mesiodistal   16  26 dan 
              tonjol  mesio-bukal    17  27
            Setelah pemasangan gigi posterior dilakukan try in.
Perhatikan inklinasi dan kontur gusi tiruannya. Perlu juga dilakukan pengamatan tehadap:
1.Oklusi.
2. Stabilisasi gaya working dan balancing side.
3. Estetis dengan melihat garis kaninus.
4. Fonetik dengan cara menyuruh pasien mengucapkan huruf S, D, O, M, R, A dan T dan lainnya sebagainya dengan jelas dan tidak ada gangguan.
Dilakukan try in  untuk mengevaluasi GTL sebelum diproses dengan cara melatih pasien untuk memakai, merasakan dan beradaptasi dengan gigi tiruan tersebut :
  1. Dilatih berfungsi : bicara, menelan, mengunyah
  2. Bila ada kesulitan dalam berfungsi dicoba dengan latihan berkali-kali
  3. Dicek estetis, retensi, stabilisasi, fonetik, dan oklusi sentrik
Kunjungan VI
            Saat ini protesa telah selesai diproses dan diinsersikan pada pasien. Hal  yang perlu diperhatikan pada pasien:
a. Retensi GTL, faktor yang mempengaruhi adalah:
1.      Tepi GTL harus mengikuti batas forniks
2.      Jaringan keras harus dihindari untuk memberi kesempatan bergerak
3.      Protesa harus berelief sesuai dengan keadaan mulut
b. Stabilisasi, faktor yang mempengaruhi:
1.      Inklinasi gigi
2.      Lereng sendi / sudut luncur sendi
c. Oklusi
Pengecekan dilakukan dengan artikulating paper, bila ada traumatik oklusi dilakukan selective grinding, yaitu penggerindingan permukaan oklusal gigi tiruan untuk mendapatkan suatu sentrik oklusi gigi tersebut. Pengurangan menggunakan hukum BULL dan MUDL (pengurangan pada permukaan bukal dan mesial pada rahang atas dan pengurangan permukaan lingual dan distal pada rahang bawah), yakni pada working side.
d. Artikulasi
Fungsi fonetik mengucapkan huruf : s, r, m, p, d, f dan t.
e. Penyusunan gigi
      Kemudian dilakukan pengecekan terhadap MMR, apakah ada perubahan atau tidak. Jika sudah tidak ada perubahan dilakukan remounting.
Caranya: lakukan pencetakan RA dan RB dengan gigi tiruan masih terpasang dalam mulut pasien. Pada waktu mengambil cetakan GTL, ikut terambil kemudian diisi dengan stone gips. Hasil cetakan kemudian dipasang pada atikulator untuk mengecek kedudukan gigi tiruan terhadap gigi dan jaringan pendukung gigi.
Tujuan dari remounting adalah :
          Untuk mengecek oklusi protesa pada sebelum dan sesudah dipasang
          Untuk mengetahui selektif grinding
          Untuk mengetahui premature kontak
Apabila sudah tidak ada gangguan makan protesa dapat dipolis.
Instruksi untuk pemeliharaan protesa :
          Protesa direndam dalam air sewaktu dilepas
          Protesa dijaga kebersihannya
          Protesa dijaga agar tidak mudah lepas
Instruksi Pasien:
1.   Cara Pemakaian : pasien diinstruksikan untuk beradaptasi dengan protesa GTL yaitu dengan memakai protesa tersebut secara terus menerus selama   2 x 24 jam kecuali pada waktu dibersihkan
2.      Malam hari ketika tidur, protesa dilepas agar jaringan otot-otot di bawahnya dapat istirahat.
3.      Pasien membersihkan protesanya setiap kali habis makan.
4.      Apabila ada rasa sakit, gangguan bicara, protesa tidak stabil, pasien dianjurkan segera kembali ke klinik.
5.      Kontrol sesuai dengan waktu yang telah ditentukan guna pengecekan lebih lanjut dan bila nantinya tidak ada gangguan, pasien bisa terus memakainya.
Prognosa:  Baik, karena :
1.      pasien kooperatif
2.      kesehatan umum baik
3.      kesehatan dan kebersihan mulut baik.
Kunjungan VII
          Pasien datang untuk kontrol setelah pemakaian selama seminggu.
Kontrol pasien dilakukan untuk mengoreksi atau memperbaiki kesalahan yang mungkin terjadi. Pada saat kontrol dilakukan pemeriksaan :
a. Subyektif :
1.      ditanyakan apakah ada keluhan atau tidak.
2.      ditanyakan apakah ada gangguan atau tidak.
3.      ditanyakan apakah ada rasa sakit.
b.  Obyektif;
1.      dilihat keadan mukosa mulut, apakah ada peradangan atau perlukaan.
2.      diperiksa  retensi dan stabilisasi GTL.
3.      diperiksa posisi GTL terhadap jaringan mulut.
Daftrar Pustaka

Boucher,   C.  O.,  1964,  Swenson’s   Complete   Denture,   Ed.   V.,  CV.  Mosby            Company, St. Louis.
 
Basker, R.M., Davenport, J.C., Tomlin H.R., 1996. Perawatan Prostodontik Bagi  Pasien Tak Bergigi edisi 3, EGC, Jakarta
 
Gehl,   D.  H   and   Dressen,  O.M.,  Complete  Denture  Prothesis,  Ed. I V,  WB.           Sounders Company, Philadelphia.
 
Harshanur,  I. W., 1993,  Geligi  Tiruan  Lengkap  Lepasan,  Cetakan  ke II, EGC,            Jakarta.

 

Itjiningsih,   H.,  1980,  Dental  Teknologi,  Cetakan  I,  FKG  Universitas  Trisakti,  Jakarta.
Soelarko  dan  Herman, W., 1980, Diktat  Prostodonsia  Full  Denture,  FKG Univ. Padjajaran, Bandung.
Swenson,  M.C.,  1964,  Complete  Denture,  Ed.  V,  CV.  Mosby  Company,  ST             Louis.
Utari, R.I., 1994, Desain dan Tehnik Mencetak pada Pembuatan Geligi Tiruan Lengkap, Cetakan I, Hipokrates, Jakarta.

 

 

 

 

Incoming search terms:

  • pembuatan gigi tiruan lengkap
  • gigi tiruan lengkap
  • cara mencetak gigi tiruan lengkap
  • apa itu mide line pada gigi
  • jenis gigi tiruan penuh
  • penyusunan gigi pada gigi tiruan pernuh
  • cara pembuatan bite rim gtl
  • cara mencetak gigi tiruan penuh
  • cara mencetak gigi valplast
  • dataran oklusal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *