Search

Memuat...

Gigi Tiruan Lengkap (Full denture/ Complete denture)



Gigi Tiruan Lengkap (Full denture/ Complete denture)
Gigi Tiruan Lengkap (Full denture/ Complete denture)

Full denture atau complete denture atau gigi tiruan lengkap menurut Soelarko dan Herman (1980), adalah suatu gigi tiruan yang menggantikan seluruh gigi pada lengkung rahang sehingga kemudian dikenal dengan istilah:
1. Upper full denture ialah gigi tiruan penuh rahang atas.
2. Lower full denture ialah gigi tiruan penuh rahang bawah.


Indikasi pembuatan gigi tiruan lengkap adalah :
1.      Individu yang seluruh giginya telah tanggal atau dicabut.
2.   Individu yang masih punya beberapa gigi yang harus dicabut karena kesehatan/kerusakan gigi yang masih ada tidak mungkin diperbaiki.
3.      Bila dibuatkan GTS gigi yang masih ada akan menggangu keberhasilannya.
4.      Kondisi umum dan kondisi mulut sehat.
5.      Ada persetujuan mengenai waktu, biaya dan prognosa yang akan diperoleh.

Pasien tidak bergigi mempunyai kecenderungan untuk memajukan mandibula secara tidak sengaja dan berusaha untuk berkontak dengan rahang atas. Hal ini dikarenakan adanya perubahan / pengurangan dimensi vertikal dan tidak adanya sentrik posisi. Sehingga jika pasien dibuatkan gigi tiruan lengkap maka dimensi vertikal dan  physiological rest position akan kembali seperti pada saat gigi asli ada.
Read More »

Gigi Tiruan Sebagian Lepasan (Removable Partial Denture)

Gigi Tiruan Sebagian Lepasan (Removable Partial Denture)Menurut Applegate (1959), gigi tiruan sebagian adalah salah satu alat yang berfungsi untuk mengembalikan beberapa gigi asli yang hilang dengan dukungan utama jaringan lunak di bawah plat dasar dan dukungan tambahan adalah gigi asli yang masih tertinggal dan terpilih sebagai pilar.
Gigi geligi dalam rongga mulut berperan penting dalam berbagai fungsi, antara lain mastikasi, fonasi, dan estetika. Kehilangan elemen gigi baik sebagian atau seluruhnya dapat mengurangi keseimbangan fungsi dalam rongga mulut, oleh karena itu kehilangan gigi geligi hendaknya segera dibuatkan gigi tiruan pengganti. Akibat-akibat yang dapat timbul karena hilangnya gigi dan tanpa penggantian, yaitu (Gunadi, dkk., 1995) :
a.       Migrasi dan rotasi gigi
Hilangnya keseimbangan pada lengkung gigi dapat menyebabkan pergeseran, miring, atau  rotasi gigi. Migrasi dan rotasi gigi ini dapat lebih lanjut menyebabkan kerusakan periodontal ataupun karies.
b.      Erupsi gigi berlebih gigi antagonis
Overeruption terjadi dapat atau tanpa disertai pertumbuhan tulang alveolar. Bila hal ini terjadi tanpa pertumbuhan tulang maka struktur tulang periodontal mengalami kemunduran sehingga gigi menjadi ekstrusi. Jika over erupsi disertai pertumbuhan tulang periodontal berlebih maka akan menimbulkan kesulitan saat pembuatan protesa.
c.       Penurunan efisiensi kunyah
Kehilangan cukup banyak gigi, apalagi gigi posterior akan menurunkan efisiensi daya kunyah sehingga proses penghalusan makananpun terganggu.
d.      Gangguan pada sendi temporo-mandibula (TMJ)
Kebiasaan mengunyah yang buruk, penutupan berlebih (over closure), hubungan rahang yang eksentrik akibat kehilangan gigidapat menyebabkan gangguan pada struktur sendi rahang.
e.       Beban berlebih pada jaringan pendukung
Gigi yang tertinggal akan menerima beban mastikasi melampaui dari yang seharusnya sehingga terjadi pembebanan berlebih dan lama kelamaan akan menyebabkan kerusakan membrana periodontal.
f.       Kelainan bicara
Kehilangan gigi depan atas dan bawah sering kali menyebabkan kelainan bicara, karena gigi depan khususnya termasuk bagian organ fonetik.
g.      Penampilan buruk, estetika kurang

Akibat-akibat tersebut dapat dihindari dengan pembuatan gigi tiruan atau protesa yang bertujuan sebagai berikut :
1.      Mengembalikan fungsi pengunyahan atau mastikasi
2.      Mengembalikan fungsi keindahan atau estetik
3.      Mengembalikan fungsi bicara atau fonetik
4.      Membantu mempertahankan jaringan mulut yang masih tinggal
5.      Memperbaiki oklusi dan mencegah migrasi gigi
6.      Meningkatkan distribusi beban kunyah (Gunadi dkk., 1995).

Pembuatan gigi tiruan sebagian harus memperhatikan beberapa hal, yaitu :
1.      Harus tahan lama
2.      Dapat mempertahankan dan melindungi gigi yang masih ada dan jaringan di sekitarnya
3.      Tidak merugikan pasien
4.      Mempunyai konstruksi dan desain yang harmonis
Kesuksesan pembuatan gigi tiruan sebagian sangat tergantung pada peran serta pasien untuk mau dan dapat beradaptasi dalam pemakaiannya.


Indikasi gigi tiruan sebagian lepasan adalah :
1.      Hilangnya satu atau  lebih sebagian gigi
2.      Gigi yang tertinggal dalam keadaan baik dan memenuhi syarat sebagai gigi pegangan
3.      Keadaan processus alveolaris masih baik
4.      Kesehatan umum dan kebersihan mulut pasien baik
5.      Pasien mau dibuatkan gigi tiruan sebagian lepasan

Keuntungan dari pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan adalah :
1.      Gigi yang diganti tidak terbatas, bila dibandingkan dengan GTC
2.      Mudah dibersihkan
3.      Mudah direstorasi

Klasifikasi atau penggolongan untuk rahang yang sebagian giginya sudah hilang adalah untuk memungkinkan dokter gigi berkomunikasi sejelas mungkin mengenai keadaan rongga mulut yang akan dipasang geligi tiruan dan membantu mempelajari prinsip dasar pembuatan desain gigi tiruan (Gunadi, dkk., 1995). 
Salah satu klasifikasi yang banyak dipakai saat ini adalah Klasifikasi Applegate-Kennedy (1923) yang merupakan modifikasi klasifikasi Kennedy yaitu mengklasifikasikan berdasarkan letak sadel dan free end :
1.      Kelas I, yaitu daerah tak bergigi terletak di bagian posterior dari gigi yang masih ada dan berada pada kedua sisi rahang (Bilateral Free End  atau ujung bebas pada dua sisi).
2.      Kelas II, yaitu daerah tak bergigi terletak di bagian posterior dari gigi yang masih ada, berada hanya pada satu sisi rahang saja (Unilateral Free End atau ujung bebas pada satu sisi).
3.      Kelas III, yaitu keadaan tak bergigi paradental dengan kedua gigi tetangganya tidak lagi mampu memberi dukungan kepada protesa secara keseluruhan.
4.      Kelas IV, yaitu daerah tak bergigi terletak di anterior gigi-geligi yang masih ada dan melewati median line.
5.      Kelas V, yaitu daerah tak bergigi paradental dimana gigi yang tertinggal gigi anterior tidak dapat dipakai sebagai gigi penahan.
6.      Kelas VI daerah tak bergigi paradental dengan kedua gigi tetangga dapat dipakai sebagai gigi penahan.
Bila terdapat daerah tak bergigi tambahan oleh Applegate-Kennedy disebut sebagai modifikasi, kecuali kelas IV tidak ada modifikasi (Gunadi dkk., 1995).

Read More »

Cara Minum Obat yang Baik dan Benar

Cara Minum Obat yang Baik dan Benar
Mengkonsumsi obat yang diresepkan dokter selalu disertai dengan harapan agar segera meredakan keluhan dan sembuh. Pertanyaan pun sering muncul dikala seseorang telah minum obat namun tak kunjung sembuh, atau keluhannya berkurang hanya pada saat setelah mengkonsumsi obat.
Pada label obat yang diberikan sudah pasti disertai keterangan aturan minum obat tersebut,  namun  sebagian besar orang belum paham tentang maksud sebenarnya dari keterangan tersebut. Kebanyakan orang awam hanya mengetahui bahwa suatu obat diminum satu kali, dua kali, atau tiga kali sehari, baik setelah makan ataupun sebelum makan. Hal ini dimengerti oleh kebanyakan orang bahwa konsumsi suatu obat mengikuti waktu makan. Sudah tentu pemahaman seperti ini tidak tepat, mengingat pola makan tiap orang pasti berbeda, dan jeda waktu diantara waktu makan tidaklah teratur.
Frekuensi minum obat dalam satu waktu berkaitan dengan waktu paruh obat dalam sirkulasi darah. Obat yang masuk sirkulasi darah kadarnya perlahan naik sampai titik maksimal kemudian turun sampai akhirnya habis. Dari kadar maksimal sampai tinggal setengahnya inilah yang disebut waktu paruh. Misalnya obat X 500gr memiliki waktu paruh 8 jam, maka 500 gr obat X akan beredar dalam sirkulasi darah dan perlahan berkurang sampai 250 gr dalam waktu 8 jam. Bila kadar obat sudah dibawah setengahnya, maka efek terapeutiknya semakin berkurang, sehingga konsumsi obat harus diulangi agar kadarnya dalam darah tetap terjaga dalam dosis terapi. Oleh karena itu setiap obat dengan waktu paruh 8 jam wajib dikonsumsi setiap 8 jam. Karena 1 hari terdiri dari 24 jam, maka dalam 1 hari obat terseut dikonsumsi sebanyak 3 kali.
Secara singkat diuraikan sebagai berikut:
- 4x1: diminum setiap 6 jam
- 3x1: diminum setiap 8 jam
- 2x1: diminum setiap 12 jam
- 1x1: diminum setiap 24 jam 

Demikian uraian singkat tentang cara minum obat yang baik dan benar, semoga berguna bagi para pembaca.

Sumber gambar: theguardian.com
Read More »

Kenali Kanker Mulut (Terutama pada Lidah, Dasar Mulut, dan Orofaring)

Kanker Mulut (Lidah)
Sobat www.doktergigi.web.id mungkin lebih sering mendengar tentang kanker secara umum. Namun tahukah sobat kalau kanker juga dapat terjadi di mulut? Secara global, kanker mulut adalah salah satu jenis kanker yang yang paling sering terjadi dan termasuk ke dalam 10 besar penyebab kematian terbanyak. Di antara berbagai jenis kanker mulut, yang paling sering terjadi adalah Squamous Cell Carcinoma (SCCa). Secara epidemiologi, kanker pada mulut mengalami peningkatan penderita mengikuti pertambahan usia dimana 95% terjadi pada golongan usia di atas 40 tahun dengan rerata usia pada saat diagnosis yaitu usia 60 tahun. Mayoritas kanker mulut terjadi pada lidah, orofaring (pertemuan rongga mulut dan saluran napas), dan dasar mulut (bagian mulut di bawah lidah), sedangkan kanker pada bagian bibir, gusi, lidah bagian atas, dan langit-langit lebih jarang ditemui.

Tembakau dan alkohol diketahui menjadi faktor resiko terjadinya kanker mulut. Tembakau mengandung karsinogen potensial diantaranya nitrosamine (nikotin), hidrokarbon polisiklik aromatik, nitrosoproline, dan polonium. Segala bentuk alkohol, termasuk minuman keras, anggur, dan bir juga mempengaruhi timbulnya kanker mulut. Kombinasi efek dari tembakau dan alkohol menghasilkan efek sinergis dalam pembentukan kanker mulut. Kedua bahan tersebut memiliki efek yaitu dehidrasi pada mukosa, meningkatkan permeabilitas mukosa, dan kandungan karsinogen dalam kedua bahan tersebut. Disfungsi liver, virus (HSV) dan status nutrisi (vitamin A) juga memainkan peranan penting. Pada kanker lidah, paparan matahari juga menjadi faktor resiko.

Pada awalnya, kanker mulut tidak menunjukkan gejala (asimptomatik), namun sangat disayangkan karena sebagian besar kasus teridentifikasi sewaktu gejala telah timbul dan penyakit telah berkembang. Perasaan tidak nyaman biasanya mengawali pasien untuk datang berobat, sekitar 85% kasus terdiagnosis pada tahap ini. Munculnya sebuah massa pada mulut dan leher, kesulitan menelan,kesulitan pengecapan, pergerakan yang terbatas, dan timbulnya perdarahan juga menjadi gejala kanker mulut yang irasakan pasien.
Metastase (anak sebar) kanker mulut sering kali mencapai nodus limfatik servikalis (di leher), jarang ditemui sampai bermetastase jauh di bawah clavicula. Prognosis buruk apabila kanker mulut terjadi pada daerah belakang rongga mulut, orofaring, dan dasar mulut.

Squamous Cell Carcinoma (SCCa) merupakan hasil dari proses bertahap, mulai dari kondisi normal ke lesi displastik sampai berujung SCCa. Kondisi premalignan/precancer menurut WHO adalah jaringan yang mengalami perubahan morfologi dimana kanker menjadi lebih cenderung terjadi, di antaranya leukoplakia, oral erythroplakia, dan oral lichen planus.
Terapi yang diberikan dapat berupa pembedahan, radioterapi, kemoterapi, dan kombinasi radiasi-bedah.

Tinjauan Pustaka:
Greenberg MS, Glick M.2003. Burket's Oral Medicine: Diagnosis  & Treatment 10th ed. New Delhi: BC Decker Inc.
Read More »

Analisis Tanda Gigitan (Bite Mark) - Ringkasan Laporan Praktikum

Analisis bitemark merupakan teknik identifikasi untuk mempelajari cara menemukan kesamaan antara pola gigitan pada bitemark dengan cetakan model gigi yang ada. Gigi setiap manusia memiliki ciri khas tersendiri yang dapat berupa pola lengkung gigi, malposisi, jumlah gigi dan lain sebagainya. Teknik analisis ini dapat digunakan dalam bidang kedokteran gigi forensik. Teknik yang sering digunakan yaitu membandingkan bukti fotografik dimana gigitan dibandingkan dengan hasil cetakan gigi (Van der Velden et al, 2006).

Ulasan kali ini merupakan ringkasan dari laporan praktikum analisis bite mark yang dilakukan pada Instalasi Radiologi RSGM Prof. Soedomo FKG UGM Yogyakarta.

Skenario dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
- Salah satu anggota kelompok yang terdiri dari 4 orang (AT, PA, NS, dan JA) akan menggigit apel hijau
- Anggota kelompok yang menggigit apel tersebut diibaratkan sebagai pelaku penggigitan, sedangkan tanda gigitan pada apel hijau diibaratkan sebagai tanda gigitan yang terdapat pada korban kejahatan
- Analisis bite mark dilakukan untuk menentukan salah satu anggota kelompok yang menjadi pelaku penggigitan.

Berikut adalah tahapan-tahapan yang dilakukan dalam menganalisis bitemark:
1.      Model gigi rahang atas dan bawah masing-masing anggota dikumpulkan terlebih dulu pada pembimbing.
2.   Salah satu anggota kelompok melakukan gigitan pada apel hijau yang telah disediakan, baik gigitan dangkal maupun gigitan dalam.
3.    Hasil gigitan dicetak dengan alginat dengan perluasan tepi area gigitan 1 cm, cetakan kemudian diisi dengan gips stone.
4.      Identifikasi pola gigitan dan ciri gigi-gigi yang terlihat pada cetakan bitemark.
5.    Dilakukan penapakan (tracing) pada cetakan bitemark menggunakan platik transparan dan kemudian dihitung lebar mesiodistal gigi yang ada.
6.     Membandingkan ciri yang telah diidentifikasi pada cetakan bitemark tadi dengan model gigi rahang atas dan bawah milik semua anggota kelompok.
7.  Menentukan satu anggota kelompok sebagai pelaku gigitan sesuai dengan identifikasi yang telah dilakukan.
8.      Dilakukan perhitungan lebar mesiodistal dari model gigi orang yang dianggap sebagai pelaku gigitan.
9.    Membandingkan hasil pengukuran lebar mesiodistal gigi dari hasil penapakan yang sudah ada dan dari model gigi, kemudian distorsi yang diperoleh dicatat ke dalam tabel.

Alat dan bahan yang digunakan :
1.      Satu buah apel hijau untuk satu kelompok
2.      Model gigi rahang atas dan rahang bawah milik masing-masing anggota kelompok
3.      Alginat dan gips stone
4.      Wadah untuk mencetak apel
5.      Plastik transparan dan spidol marker


Analisis Bitemark

 Hasil cetakan pada apel yang tergigit:
Analisis Tanda Gigitan (Bite Mark)

Hasil tracing determinasi lengkung gigi:
Analisis Tanda Gigitan (Bite Mark)

Pada gigitan dangkal RA terdapat 3 catatan gigitan sempurna (12, 11, dan 21) dan 1 catatan gigitan tidak sempurna (22). Sedangkan pada gigitan dangkal RB terdapat 4 catatan gigitan sempurna (32, 31, 41,dan 42). Pada gigitan dalam RA terdapat 4 catatan gigitan sempurna (12, 11, 21, dan 22). Sedangkan pada catatan gigitan dalam RB terlihat adanya 4 catatan gigitan sempurna (32, 31, 41,dan 42 )
Baik pada gigitan dangkal maupun gigitan dalam dapat diketahui malposisi gigi individual, antara lain:
Rahang atas :  22 mengalami mesiopalatotorsiversi
Rahang bawah : 31 mengalami linguoversi

Perbandingan Bitemark dengan Beberapa Model Gigi
1. Model Studi milik AT
Analisis Tanda Gigitan (Bite Mark)
Cetakan model ini dieliminasi karena tidak memiliki kesamaan pola gigi dan malposisi gigi individual.





2. Model Studi milik PA
Analisis Tanda Gigitan (Bite Mark)
Cetakan model ini dieliminasi karena tidak memiliki kesamaan pola gigi dan malposisi gigi individual.





3. Model Studi milik NS
Analisis Tanda Gigitan (Bite Mark)
Cetakan model ini dieliminasi karena tidak memiliki kesamaan pola gigi dan malposisi gigi individual.





4. Model Studi milik JA
Analisis Tanda Gigitan (Bite Mark)
Berdasarkan perbandingan antara bitemark dengan cetakan model gigi tersangka, terdapat kemiripan lengkung gigi dan malposisi gigi individual. Model RA tersangka terdapat malposisi berupa 22  mesiopalatotorsiversi. Sedangkan pada RB didapat 31 linguoversi. selain itu kecenderungan dari pola insisal gigi JA yang tidak rata (pada insisal gigi insisivus lateral rahang atas berbentuk meruncing) hal tersebut terrekam dalam bitemark yang ditunjukan dengan kedalaman bitemark gigitan dangkal sisi gigi insisivus lateralnya cenderung lebih dangkal disbanding gigitan gigi insisivus sentral dan ciri tersebut tidak dimilik oleh keempat tersangka lain, gigi insisivus lateral rahang atas tersangka lain memiliki dataran insisal yang datar.

Hasil pengukuran lebar mesiodistal gigi, gigitan dangkal dan gigitan dalam, serta diskrepansi bitemark dengan lebar mesiodistal gigi:

Elemen gigi
Lebar mesiodistal gigi (mm)
Model rahang
Gigitan dangkal
Diskrepansi
Gigitan dalam
Diskrepansi
12
7,02
5,00
2,02
7,78
0,76
11
9,04
9,00
0,04
9,20
0,16
21
8,56
7,76
0,80
8,84
0,28
22
6,92
-
-
7,04
0,12
32
6,08
6,02
0,06
5,70
0,38
31
5,48
5,28
0,20
5,74
0,36
41
5,86
5,18
0,68
6,00
0,14
42
5,32
5,82
0,50
6,02
0,70

KESIMPULAN:
  1.  Pelaku yang menggigit apel pada kasus ini adalah JA
  2.  Terdapat distorsi lebar mesiodostal gigi pada bekas gigitan dengan lebar mesiodistal gigi pelaku 
  3. Distorsi rahang yang terjadi disebabkan oleh adanya perbedaan tekanan sudut rahang, posisi tubuh saat menggigit, serta faktor lain seperti pencetakan yang kurang baik.
  4. Penetapan pelaku penggigit apel berdasarkan kemiripan pola lengkung gigi antara model gigi pelaku dengan model bitemark apel
Terima kasih telah membaca ulasan singkat ini, semoga bermanfaat untuk para pembaca sekalian.

Read More »