Kenali Kanker Mulut (Terutama pada Lidah, Dasar Mulut, dan Orofaring)

Posted by Enos Rangga

Kanker Mulut (Lidah)
Sobat www.doktergigi.web.id mungkin lebih sering mendengar tentang kanker secara umum. Namun tahukah sobat kalau kanker juga dapat terjadi di mulut? Secara global, kanker mulut adalah salah satu jenis kanker yang yang paling sering terjadi dan termasuk ke dalam 10 besar penyebab kematian terbanyak. Di antara berbagai jenis kanker mulut, yang paling sering terjadi adalah Squamous Cell Carcinoma (SCCa). Secara epidemiologi, kanker pada mulut mengalami peningkatan penderita mengikuti pertambahan usia dimana 95% terjadi pada golongan usia di atas 40 tahun dengan rerata usia pada saat diagnosis yaitu usia 60 tahun. Mayoritas kanker mulut terjadi pada lidah, orofaring (pertemuan rongga mulut dan saluran napas), dan dasar mulut (bagian mulut di bawah lidah), sedangkan kanker pada bagian bibir, gusi, lidah bagian atas, dan langit-langit lebih jarang ditemui.

Tembakau dan alkohol diketahui menjadi faktor resiko terjadinya kanker mulut. Tembakau mengandung karsinogen potensial diantaranya nitrosamine (nikotin), hidrokarbon polisiklik aromatik, nitrosoproline, dan polonium. Segala bentuk alkohol, termasuk minuman keras, anggur, dan bir juga mempengaruhi timbulnya kanker mulut. Kombinasi efek dari tembakau dan alkohol menghasilkan efek sinergis dalam pembentukan kanker mulut. Kedua bahan tersebut memiliki efek yaitu dehidrasi pada mukosa, meningkatkan permeabilitas mukosa, dan kandungan karsinogen dalam kedua bahan tersebut. Disfungsi liver, virus (HSV) dan status nutrisi (vitamin A) juga memainkan peranan penting. Pada kanker lidah, paparan matahari juga menjadi faktor resiko.

Pada awalnya, kanker mulut tidak menunjukkan gejala (asimptomatik), namun sangat disayangkan karena sebagian besar kasus teridentifikasi sewaktu gejala telah timbul dan penyakit telah berkembang. Perasaan tidak nyaman biasanya mengawali pasien untuk datang berobat, sekitar 85% kasus terdiagnosis pada tahap ini. Munculnya sebuah massa pada mulut dan leher, kesulitan menelan,kesulitan pengecapan, pergerakan yang terbatas, dan timbulnya perdarahan juga menjadi gejala kanker mulut yang irasakan pasien.
Metastase (anak sebar) kanker mulut sering kali mencapai nodus limfatik servikalis (di leher), jarang ditemui sampai bermetastase jauh di bawah clavicula. Prognosis buruk apabila kanker mulut terjadi pada daerah belakang rongga mulut, orofaring, dan dasar mulut.

Squamous Cell Carcinoma (SCCa) merupakan hasil dari proses bertahap, mulai dari kondisi normal ke lesi displastik sampai berujung SCCa. Kondisi premalignan/precancer menurut WHO adalah jaringan yang mengalami perubahan morfologi dimana kanker menjadi lebih cenderung terjadi, di antaranya leukoplakia, oral erythroplakia, dan oral lichen planus.
Terapi yang diberikan dapat berupa pembedahan, radioterapi, kemoterapi, dan kombinasi radiasi-bedah.

Tinjauan Pustaka:
Greenberg MS, Glick M.2003. Burket's Oral Medicine: Diagnosis  & Treatment 10th ed. New Delhi: BC Decker Inc.
SelengkapnyaKenali Kanker Mulut (Terutama pada Lidah, Dasar Mulut, dan Orofaring)

Analisis Tanda Gigitan (Bite Mark) - Ringkasan Laporan Praktikum

Posted by Enos Rangga

Analisis bitemark merupakan teknik identifikasi untuk mempelajari cara menemukan kesamaan antara pola gigitan pada bitemark dengan cetakan model gigi yang ada. Gigi setiap manusia memiliki ciri khas tersendiri yang dapat berupa pola lengkung gigi, malposisi, jumlah gigi dan lain sebagainya. Teknik analisis ini dapat digunakan dalam bidang kedokteran gigi forensik. Teknik yang sering digunakan yaitu membandingkan bukti fotografik dimana gigitan dibandingkan dengan hasil cetakan gigi (Van der Velden et al, 2006).

Ulasan kali ini merupakan ringkasan dari laporan praktikum analisis bite mark yang dilakukan pada Instalasi Radiologi RSGM Prof. Soedomo FKG UGM Yogyakarta.

Skenario dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
- Salah satu anggota kelompok yang terdiri dari 4 orang (AT, PA, NS, dan JA) akan menggigit apel hijau
- Anggota kelompok yang menggigit apel tersebut diibaratkan sebagai pelaku penggigitan, sedangkan tanda gigitan pada apel hijau diibaratkan sebagai tanda gigitan yang terdapat pada korban kejahatan
- Analisis bite mark dilakukan untuk menentukan salah satu anggota kelompok yang menjadi pelaku penggigitan.

Berikut adalah tahapan-tahapan yang dilakukan dalam menganalisis bitemark:
1.      Model gigi rahang atas dan bawah masing-masing anggota dikumpulkan terlebih dulu pada pembimbing.
2.   Salah satu anggota kelompok melakukan gigitan pada apel hijau yang telah disediakan, baik gigitan dangkal maupun gigitan dalam.
3.    Hasil gigitan dicetak dengan alginat dengan perluasan tepi area gigitan 1 cm, cetakan kemudian diisi dengan gips stone.
4.      Identifikasi pola gigitan dan ciri gigi-gigi yang terlihat pada cetakan bitemark.
5.    Dilakukan penapakan (tracing) pada cetakan bitemark menggunakan platik transparan dan kemudian dihitung lebar mesiodistal gigi yang ada.
6.     Membandingkan ciri yang telah diidentifikasi pada cetakan bitemark tadi dengan model gigi rahang atas dan bawah milik semua anggota kelompok.
7.  Menentukan satu anggota kelompok sebagai pelaku gigitan sesuai dengan identifikasi yang telah dilakukan.
8.      Dilakukan perhitungan lebar mesiodistal dari model gigi orang yang dianggap sebagai pelaku gigitan.
9.    Membandingkan hasil pengukuran lebar mesiodistal gigi dari hasil penapakan yang sudah ada dan dari model gigi, kemudian distorsi yang diperoleh dicatat ke dalam tabel.

Alat dan bahan yang digunakan :
1.      Satu buah apel hijau untuk satu kelompok
2.      Model gigi rahang atas dan rahang bawah milik masing-masing anggota kelompok
3.      Alginat dan gips stone
4.      Wadah untuk mencetak apel
5.      Plastik transparan dan spidol marker


Analisis Bitemark

 Hasil cetakan pada apel yang tergigit:
Analisis Tanda Gigitan (Bite Mark)

Hasil tracing determinasi lengkung gigi:
Analisis Tanda Gigitan (Bite Mark)

Pada gigitan dangkal RA terdapat 3 catatan gigitan sempurna (12, 11, dan 21) dan 1 catatan gigitan tidak sempurna (22). Sedangkan pada gigitan dangkal RB terdapat 4 catatan gigitan sempurna (32, 31, 41,dan 42). Pada gigitan dalam RA terdapat 4 catatan gigitan sempurna (12, 11, 21, dan 22). Sedangkan pada catatan gigitan dalam RB terlihat adanya 4 catatan gigitan sempurna (32, 31, 41,dan 42 )
Baik pada gigitan dangkal maupun gigitan dalam dapat diketahui malposisi gigi individual, antara lain:
Rahang atas :  22 mengalami mesiopalatotorsiversi
Rahang bawah : 31 mengalami linguoversi

Perbandingan Bitemark dengan Beberapa Model Gigi
1. Model Studi milik AT
Analisis Tanda Gigitan (Bite Mark)
Cetakan model ini dieliminasi karena tidak memiliki kesamaan pola gigi dan malposisi gigi individual.





2. Model Studi milik PA
Analisis Tanda Gigitan (Bite Mark)
Cetakan model ini dieliminasi karena tidak memiliki kesamaan pola gigi dan malposisi gigi individual.





3. Model Studi milik NS
Analisis Tanda Gigitan (Bite Mark)
Cetakan model ini dieliminasi karena tidak memiliki kesamaan pola gigi dan malposisi gigi individual.





4. Model Studi milik JA
Analisis Tanda Gigitan (Bite Mark)
Berdasarkan perbandingan antara bitemark dengan cetakan model gigi tersangka, terdapat kemiripan lengkung gigi dan malposisi gigi individual. Model RA tersangka terdapat malposisi berupa 22  mesiopalatotorsiversi. Sedangkan pada RB didapat 31 linguoversi. selain itu kecenderungan dari pola insisal gigi JA yang tidak rata (pada insisal gigi insisivus lateral rahang atas berbentuk meruncing) hal tersebut terrekam dalam bitemark yang ditunjukan dengan kedalaman bitemark gigitan dangkal sisi gigi insisivus lateralnya cenderung lebih dangkal disbanding gigitan gigi insisivus sentral dan ciri tersebut tidak dimilik oleh keempat tersangka lain, gigi insisivus lateral rahang atas tersangka lain memiliki dataran insisal yang datar.

Hasil pengukuran lebar mesiodistal gigi, gigitan dangkal dan gigitan dalam, serta diskrepansi bitemark dengan lebar mesiodistal gigi:

Elemen gigi
Lebar mesiodistal gigi (mm)
Model rahang
Gigitan dangkal
Diskrepansi
Gigitan dalam
Diskrepansi
12
7,02
5,00
2,02
7,78
0,76
11
9,04
9,00
0,04
9,20
0,16
21
8,56
7,76
0,80
8,84
0,28
22
6,92
-
-
7,04
0,12
32
6,08
6,02
0,06
5,70
0,38
31
5,48
5,28
0,20
5,74
0,36
41
5,86
5,18
0,68
6,00
0,14
42
5,32
5,82
0,50
6,02
0,70

KESIMPULAN:
  1.  Pelaku yang menggigit apel pada kasus ini adalah JA
  2.  Terdapat distorsi lebar mesiodostal gigi pada bekas gigitan dengan lebar mesiodistal gigi pelaku 
  3. Distorsi rahang yang terjadi disebabkan oleh adanya perbedaan tekanan sudut rahang, posisi tubuh saat menggigit, serta faktor lain seperti pencetakan yang kurang baik.
  4. Penetapan pelaku penggigit apel berdasarkan kemiripan pola lengkung gigi antara model gigi pelaku dengan model bitemark apel
Terima kasih telah membaca ulasan singkat ini, semoga bermanfaat untuk para pembaca sekalian.

SelengkapnyaAnalisis Tanda Gigitan (Bite Mark) - Ringkasan Laporan Praktikum

Berbagai Rumus untuk Menentukan Dosis Obat Anak

Posted by Enos Rangga

Rumus untuk Menentukan Dosis Obat Anak
Berbagai rumus penentuan dosis obat untuk anak dapat digunakan apabila pabrikan obat tidak merinci secara jelas mengenai dosis untuk digunakan pada pasien anak. Sebaliknya apabila pabrikan obat merinci dengan jelas mengenai dosis untuk anak, maka ikutilah petunjuk tersebut.

Sebagai peringatan, tidak semua obat untuk dewasa dapat diberikan pada anak.




1. Berdasarkan Berat Badan

- Clark's rule
Dosis Anak= Berat Badan (lb) x Dosis Dewasa
                           150
berat badan bukan dalam kg, tapi lb dimana 1kg=2,2lb

2. Berdasarkan Umur

- Young's rule
Dosis Anak= Umur (tahun) x Dosis Dewasa
                    Umur+12

- Cowling's rule
Dosis Anak= (Umur (tahun) + 1) x Dosis Dewasa
                            24

- Friend's rule
Dosis Anak= 2xUmur (tahun) x Dosis Dewasa
                             25

- Fried's rule (untuk bayi)
Dosis Anak= Umur (bulan) x Dosis Dewasa
                           150

3. Berdasarkan Luas Permukaan Tubuh (Body Surface Area)

- Rumus menghitung BSA

Mosteller BSA = akar kuadrat dari tinggi badan (cm) x berat badan (kg)
                                                                             3600

- Dosis Anak= Mosteller BSA x Dosis Dewasa
                                1,73

Demikian uraian singkat tentang cara menghitung dosis obat untuk anak, semoga bermanfaat.

Bacaan yang disarankan:
Lack J.A.,Stuart-Taylor M.A. Calculation of Drug Dosage and Body Surface Area of Children. British Journal of Anaesthesia 1997; 78: 601-605.
SelengkapnyaBerbagai Rumus untuk Menentukan Dosis Obat Anak

Redakan Nyeri (Sakit) Gigi Saat Hamil dan Menyusui

Posted by Enos Rangga

Sakit Gigi Saat Hamil
Sakit gigi dapat dialami siapa saja, tanpa mengenal usia dan jenis kelamin. Namun kekhawatiran akan muncul manakala sakit gigi terjadi pada wanita yang sedang hamil. Para ibu hamil cenderung untuk menghindari setiap tindakan medis yang tidak berhubungan dengan keluhan kehamilan. Namun pada prinsipnya, masa kehamilan akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh kesehatan ibu secara optimal dan menyeluruh.

ADA (American Dental Association) justru menyarankan setiap ibu hamil agar selalu menjaga kondisi kesehatan gigi dan mulut, yang dalam jangka pendek akan mendukung masa kehamilan itu sendiri, bahkan untuk kesehatan sang ibu dan anak di kemudian hari. Sehingga para ibu hamil tidak perlu resah untuk mendapatkan perawatan rutin yang berhubungan dengan gigi dan mulut.

Apabila ibu hamil mengalami nyeri/sakit gigi, maka jangan ragu untuk segera konsultasi dengan dokter kandungan dan dokter gigi untuk mendapatkan penanganan terbaik. Kondisi nyeri (sakit) pada gigi tidak dapat disembuhkan hanya dengan obat anti nyeri (analgetik) saja, tetapi sumber rasa sakit itu sendiri perlu dihilangkan. Silahkan cermati postingan yang lalu tentang beberapa kemungkinan penyebab sakit gigi. Namun penyebab utama yang paling sering terjadi adalah infeksi bakteri, sehingga perlu penggunaan antibiotik.

Berikut ini adalah beberapa obat yang harus dipertimbangkan penggunaannya (Ali, 2012):
1. Anestesi Lokal
a. Ibu Hamil
Aman digunakan:
-Lidocaine
-Prilocaine
-Benzocaine

Digunakan secara hati-hati:
-Mepivacaine
-Bupivacaine
-Articaine

b. Ibu Menyusui
Obat-obat diatas dapat digunakan dengan aman.

2. Analgesik (anti nyeri) dan anti inflamasi
a.Ibu Hamil
Aman digunakan:
-Acetaminophen (paracetamol)

Digunakan secara hati-hati:
-Aspirin
-Ibuprofen
-Rofecoxib
-Codeine
-Hydrocodone
-Oxycodone
-Propoxyphene
-Corticosteroids

HINDARI (untuk kehamilan trimester ke-3):
-Aspirin
-Ibuprofen

b. Ibu menyusui
Aman digunakan:
-Acetaminophen (paracetamol)
-Ibuprofen
-Diclofenac
-Codeine
-Hydrocodone
-Oxycodone
-Propoxyphene

Digunakan secara hati-hati:
-Aspirin
-Indomethacin
-Cortisone

3. Antibiotik Untuk Ibu Hamil dan Menyusui
Aman digunakan:
-Penicillins
-Erythromycin (not estolate form)
-Azithromycin
-Cephalosporin

Digunakan secara hati-hati:
-Clindamycin

HINDARI:
-Tetracycline
-Fluoroquinolones
-Metronidazole
-Clarithromycin
-Erythromycin (estolate form)
-Aminoglycosides
-Vancomycin

Demikian ulasan singkat tentang berbagai obat yang sering digunakan untuk mengatasi nyeri (sakit) gigi, dan penggunaan yang aman bagi ibu hamil dan menyusui. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membutuhkan informasi.

Daftar Pustaka:
Ali, H. 2012. Principles of Drug Therapy in Dentistry. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers.

Sumber gambar: hangthebankers.com
SelengkapnyaRedakan Nyeri (Sakit) Gigi Saat Hamil dan Menyusui

Struktur Gigi Manusia

Posted by Enos Rangga

Struktur Gigi Manusia
Tulisan kali ini akan membahas tentang struktur gigi manusia. Walaupun bentuk gigi bermacam-macam sesuai fungsinya, namun struktur daru luar sampai dalam tetap sama, baik itu gigi seri, gigi taring, geraham, gigi susu maupun gigi permanen.

1. Enamel
Disebut juga email, merupakan struktur mahkota gigi terluar dan merupakan bagian gigi yang paling kuat. Tersusun dari prisma email secara teratur dan kokoh,  merupakan senyawa kalsium hidroksi apatit.

2. Sementum
Merupakan bagian terluar dari akar gigi, tempat melekatnya serabut periodontal yang menghubungkan gigi dengan tulang alveolar (pendukung gigi). Sementum dan enamel bertemu pada area leher gigi (batas antara mahkota dan akar gigi) membetuk cemento-enamel junction (CEJ).
2. Dentin
Susunannya berpori, merupakan struktur setelah enamel (pada mahkota) dan setelah sementum (pada akar). Pori pada dentin terdapat bagian ujung saraf gigi dan cairan dentin. Pada dentin inilah setiap rangsangan yang mencapai ujung saraf gigi (secara langsung maupun karena terusan dari cairan dentin) akan menyebabkan sensasi (ngilu, nyeri).

3. Pulpa
Pulpa merupakan kumpulan saraf dan pembuluh darah gigi, menempati ruang dalam gigi yang disebut kamar pulpa (pulp chamber) pada mahkota gigi sampai ke saluran akar (root canal) pada akar gigi. Karena berisi pembuluh darah dan saraf, maka bila gigi yang berlubang sudah mencapai bagian ini dapat mengalami perdarahan dan merasakan nyeri.

Demikian penjelasan singkat tentang struktur gigi manusia, semoga berguna bagi rekan-rekan yang memerlukan informasi ini.

Sumber gambar: enchantedlearning.com
SelengkapnyaStruktur Gigi Manusia